Tujuan Utama

Blog Tausiyah Qolbi

LightBlog

Saturday, August 7, 2021

Ilmu Tauhid : Islam-Iman-Ihsan

Catatan : Diskusi 6 Agustus 2021 - Tausiyah Qolbi (full team)
Pendekatan Tauhid dari teori Islam, Iman dan Ihsan.

Sebagaimana tercantum pada sebuah hadits, ketika malaikat Jibril (dalam bentuk manusia) datang ke majelis pengajian Baginda Ahmad (Rasulullah, Muhammad). Jibril bertanya kepada Rasulullah tentang Islam - Iman - Ihsan. 
Berikut ini dalilnya - hadits Ke-2 dalam Hadits Arbain An-Nawawi
Dari Umar radhiyallahu ‘anhu pula dia berkata; pada suatu hari ketika kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang laki-laki berpakaian sangat putih, dan rambutnya sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tidak seorang pun dari kami yang mengenalnya, kemudian ia duduk di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendekatkan lututnya lalu meletakkan kedua tangannya di atas pahanya, seraya berkata: ‘Wahai Muhammad jelaskan kepadaku tentang Islam?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ”Islam itu adalah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak diibadahi/disembah dengan benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, engkau menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan haji ke Baitullah Al Haram jika engkau mampu mengadakan perjalanan ke sana.” Laki-laki tersebut berkata: ‘Engkau benar.’ Maka kami pun terheran-heran padanya, dia yang bertanya dan dia sendiri yang membenarkan jawabannya. Dia berkata lagi: “Jelaskan kepadaku tentang Iman?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “(Iman itu adalah) Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir serta engkau beriman kepada takdir baik dan buruk.” Ia berkata: ‘Engkau benar.’ Kemudian laki-laki tersebut bertanya lagi: ‘Jelaskan kepadaku tentang Ihsan?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “(Ihsan adalah) Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Kalaupun engkau tidak bisa melihat-Nya, sungguh DIA melihatmu.” Dia berkata: “Beritahu kepadaku kapan terjadinya kiamat?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidaklah orang yang ditanya lebih mengetahui dari yang bertanya.” Ia berkata: “Jelaskan kepadaku tanda-tandanya!” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Jika seorang budak wanita melahirkan tuannya dan jika engkau mendapati penggembala kambing yang tidak beralas kaki dan tidak pakaian saling berlomba dalam meninggikan bangunan.”
Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Kemudian laki-laki itu pergi, aku pun terdiam sejenak.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku: “Wahai ‘Umar, tahukah engkau siapa orang tadi?” Aku pun menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dia adalah Jibril yang datang untuk mengajarkan agama ini kepada kalian.” (HR Muslim no 8)

Dari kalam nabi Muhammad (tentang Ihsan), tercantum dua makna, yaitu tersurat dan tersirat. Makna tersurat adalah bahwa benar manusia diberikan kemampuan untuk melihat DIA dengan pengertian yang hanya DIA yang tahu dan pastilah bukan dengan mata zahir (terlihat : indra penglihatan) manusia. Sedang makna tersirat adalah bahwa sholat, ibadah paling utama dalam Islam, kesempurnaan atau derajat tertingginya adalah ketika mengalami kedua kondisi yang tercantum pada kalam nabi yaitu "saling melihat antara DIA dan hamba Nya". 

Perhatikan analogi (perumpamaan/perbandingan) berikut ini sebelum memahami lebih dalam kutipan kalam Rasulullah diatas tentang Ihsan. Dalam proses hubungan manusia dengan manusia dibandingkan hubungan Tuhan dengan manusia dalam kehidupan. Urutan secara umum adalah tahu - kenal - dekat

Kondisi pertama : Si A tahu tetangganya si B di hari pertama bertemu. Lalu terjadi proses di hari-hari berikutnya dan masuk dalam proses kenal dan semakin lama berinteraksi hingga akhirnya menjadi dekat.

Kondisi kedua : Bagaimana proses hubungan Tuhan dengan manusia? tentu ada sedikit kemiripan meskipun sangat banyak perbedaan. Adapun Tuhan dengan jelas menyatakan dalam Alqur'an " ...katakan bahwa AKU dekat.. " (QS 2 Al-Baqarah Ayat 186). Dari sisi Tuhan (God side) : Dekatnya Tuhan dengan manusia telah DIA tetapkan dengan jelas bhawa DIA dekat bahkan lebih dekat dari urat leher manusia sendiri (QS 50 Qof ayat 16) meski tanpa proses tahu dan kenal. Tentu berbeda dari sisi manusia (secara umum/sebagian besar) yang prosesnya mengikuti situasi umum (tahu - kenal - dekat), Tuhan mengizinkan manusia dapat langsung dekat, tanpa melalui tahu dan kenal. Karena pada hakikatnya DIA lah yang hanya dapat mengenalkan diri Nya kepada manusia dimana proses tahu dan kenal adalah sepenuhnya atas kuasa/kehendak DIA.

Dari analogi di atas, sangat jelas bahwa prasangka manusia menjadi faktor atau efek utama terhadap rasa dekat tidaknya kepada Tuhan (terkait ilmu Tauhid). Jika menggunakan analogi kondisi pertama untuk dekat dengan Tuhan, maka mustahil mencapai level sesuai dalil Quran bahwa DIA dekat dan lebih dekat dari urat leher manusia. Tapi jika paham, maka beruntunglah manusia yang mengikuti analogi kedua karena orang-orang tersebut insya Allah akan mendapat petunjuk menuju ke Allah.

Pada analogi kondisi kedua, tentu kita ketahui bahwa Allah itu maha goib. Maka cara mengamalkan bahwa Tuhan itu dekat harusnya dengan amalan zohir atau nyata. Karena kondisi ini bukan hal yang mudah, maka siapapun orangnya akan membutuhkan teori untuk mengamalkan "Allah itu dekat" dan hal tersebut hanya bisa didapat dari seorang manusia yang telah mengamalkan hal tersebut.

Jika belum bertemu orang yang telah melakukan amalan "Allah itu dekat" analogi kondisi pertama dapat digunakan secara praktek zohir. Contohnya ketika sholat, biasanya dan kebanyakan manusia itu lalai dalam sholatnya. Maka jika dalam sholatnya ketika mau memulai sholat, si pelakunya sadar bahwa mau menghadap Allah (Tuhan pencipta/penguasa Alam & seluruh isinya). Maka ketika membaca surah Alfatiha, rasakan dan perhatikan bagaimana respon/tanggapan Allah dari apa yang kita baca. Meski ini masih dalam alam hayal atau seolah-olah, hal tersebut lebih baik daripada berpikir atau berhayal tentang selain Allah karena memang tujuan aktifitas sholat adalah menghadap kepada Allah.

Demikian kajian TasQi diskusi minggu I bulan Agustus 2021

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ

No comments:

Post a Comment